Tari saman ditarikan dalam posisi duduk. Termasuk dalam jenis kesenian ratoh duk
(tari duduk). Yang kelahirannya erat berkaitan dengan masuk dan
berkembangnya agama islam. Dimana posisi penari duduk berlutut, berat
badan tertekan kepada kedua telapak kaki. Pola ruang pada tari saman
juga terbatas pada level, yakni ketinggian posisi badan. Dari posisi
duduk berlutut berubah ke posisi diatas lutut (Gayo – berlembuku) yang merupakan level paling tinggi, sedang level yang paling rendah adalah apabila penari membungkuk badan kedepan sampai 45o (tungkuk) atau miring kebelakang sampai 60o (langat). Terkadang saat melakukan gerakan tersebut disertai gerakan miring ke kanan atau ke kiri yang disebut singkeh. Ada pula gerak badan dalam posisi duduk melenggang ke kanan-depan atau kiri-belakang (lingang).
Selain
posisi duduk dan gerak badan, gerak tangan sangat dominan dalam tari
saman. Karena dia berfungsi sebagai gerak sekaligus musik. Ada yang
disebut cerkop yaitu kedua tangan berhimpit dan searah. Ada juga cilok, yaitu gerak ujung jari telunjuk seakan mengambil sesuatu benda ringan seperti garam. Dan tepok
yang dilakukan dalam berbagai posisi (horizontal/ bolak-balik/ seperti
baling-baling). Gerakan kepala seperti mengangguk dalam tempo lamban
sampai cepat (anguk) dan kepala berputar seperti baling-baling (girek)
juga merupakan ragam gerak saman. Kesenyawaan semua unsur inilah yang
menambah keindahan dan keharmonisan dalam gerak tari saman.
Karena
tari saman di mainkan tanpa alat musik, maka sebagai pengiringnya di
gunakan tangan dan badan. Ada beberapa cara untuk mendapatkan
bunyi-bunyian tersebut:
- Tepukan kedua belah tangan. Ini biasanya bertempo sedang sampai cepat
- Pukulan kedua telapak tangan ke dada. Biasanya bertempo cepat
- Tepukan sebelah telapak tangan ke dada. Umunya bertempo sedang
- Gesekan ibu jari dengan jari tengah tangan (kertip). Umunya bertempo sedang.
Dan nyanyian para penari menambah
kedinamisan dari tarian saman. Dimana cara menyanyikan lagu-lagu dalam
tari saman dibagi dalam 5 macam :
- Rengum, yaitu auman yang diawali oleh pengangkat.
- Dering, yaitu regnum yang segera diikuti oleh semua penari.
- Redet, yaitu lagu singkat dengan suara pendek yang dinyanyikan oleh seorang penari pada bagian tengah tari.
- Syek, yaitu lagu yang dinyanyikan oleh seorang penari dengan suara panjang tinggi melengking, biasanya sebagai tanda perubahan gerak
- Saur, yaitu lagu yang diulang bersama oleh seluruh penari setelah dinyanyikan oleh penari solo.
Dalam setiap pertunjukan semuanya itu
di sinergikan sehingga mengahasilkan suatu gerak tarian yang
mengagumkan. Jadi kekuatan tari Saman tidak hanya terletak pada
syairnya saja namun gerak yang kompak menjadi nilai lebih dalam tarian.
Ini boleh terwujud dari kepatuhan para penarinya dalam memainkan
perannya masing-masing.
Itulah sekelumit tentang fungsi formasi,
jenis gerak, asal musik pengiring serta nyanyian dalam pertunjukan tari
Saman. Semoga bermanfaat bagi anda dalam memahami tarian Saman.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar